|
Sebuah catatan tentang hujan (dan mengapa aku suka hujan)! Mereka bilang aku seorang pemimpi Karena memimpikan hujan yang jatuh dalam ruang. Mereka bilang aku seorang pemimpi Karena memimpikan mencium tetes pertamanya yang jatuh. Mereka bilang aku seorang pemimpi Karena memimpikan menyapa hujan dalam bahasa asing yang tak mereka kenal Mereka bilang aku seorang pemimpi Karena memimpikan menari bersama hujan di pagi hari Tapi … Tahukah kau mengapa aku suka hujan? Tahukah kau mengapa aku merindukan kecupannya yang jatuh menyapa bumi? Tahukah kau mengapa aku ingin menari bersama dalam tariannya yang menggila? Tahukah kau mengapa aku ingin bermain bersamanya? Tahukah kau mengapa aku rindu menyapanya di pagi hari? Aku bukan seorang pembohong Aku bukan seorang yang kehilangan pikiran Aku bukan seorang yang tersesat Pun bukan yang terhilang Aku jatuh cinta padanya Aku tergila – gila padanya Aku merindukannya Aku memimpikannya Aku tergila – gila padanya Karena ia membuatku membaui aroma tubuh bumi Yang terpapar udara dan menembus indera penciumanku Membuatku dan bumi menyatu Aku cinta mati padanya Karena ia membuatku merasa begitu seksi Saat tetes –tetesnya menyentuh tubuhku Membuatku dan alam menyatu Aku tertawa bersamanya Karena ia mengajariku menghitung tiap berkat yang kupunya Kala tetes yang jatuh menembus pori bumi Berbagi kehidupan. Anggap saja aku bagai kawanan manusia di belahan Afrika, Kawanan manusia di belahan Asia Selatan Kawanan manusia di dataran gurun Timur Tengah Pun kawanan manusia di tempat – tempat terkering di muka bumi. Yang memuja hujan Yang berteriak menjerit padanya Yang menari menggila memanggilnya Yang tertawa riang dalam debu tebal menunggunya Kau tak akan pernah mengerti Kau tak akan bisa memahaminya Kau tak akan pernah melihatnya (seperti aku menggilainya) Hujan … Tangis para dewi ataukah awan yang kelelahan berlari Hujan Keringat para dewa ataukah pengembunan massa air Hujan … Begitu seksi, begitu elegan Begitu dingin, begitu mencekam Begitu becek, begitu berlumpur Begitu basah, begitu lembab Begitu liar, begitu lembut Dan aku pun tak tahu lagi Satu yang pasti, Aku pecinta hujan. Panggil aku pecinta hujan pagi. Karena aku tahu, Hujan membuatku dekat dengan Tuhan. Usai hujan pelangi kan menyapa; Janji Tuhan di langit! Dan aku kan berada di sana, Usai hujan pagi. M-E-N-U-N-G-G-U lelaki pelangi! (Canberra/ 8 Januari 2009/ Seseorang yang merindukan aroma hujan tropis bercampur garam khas Manokwari)
|
Komentar
tulisan yang bagus.