Kamis, 23 Feb 2012
Click



Pesan terbaru: 13 jam, 53 menit yg lalu
  • anggi imbiri : ^^
  • Rudolfo : Salam Cinta Papua
  • kekenikanaka : halloooo...slamat pagi komin2 tercinta dan pencinta komin di mana saja berada. love you all..
  • Ayari : slamat bergadang sodara/sodariku tercinta....
  • novia : tetap mengucap Syukur!! ^_^
  • Rudolfo : apapun, bagaimanapun, dimanapun, kapanpun....

Register atau login dulu

Penilaian Pembaca: / 0
KurangMantap 
dayanara
Pohon Natal Avanza
Artikel & Berita -
Selasa, 03 Jan 2012 14:30
Oleh : dayanara meimosaki

PENGANTAR

Manokwari, kota administratif tertua di Tanah Papua, tak hanya dikenal sebagai kota buah – buahan. Sejak beberapa tahun silam, kota ini juga dikenal dengan label ‘Kota Injil’. Label barunya ini tak ayal juga menampilkan kisi - kisi khas perayaan Kristiani yang menarik. Catatan kali ini ingin menggali tentang salah satu fenomena pohon yang hanya ‘tumbuh’ tiap bulan Desember di sudut – sudut kota ini. Ooops, jangan berpikir ini sejenis spesies baru pohon. Yang saya maksud tentu saja pohon natal artifisial yang muncul sebagai dekorasi di tiap sudut kota hehehe. Sebut saja ini ‘pohon Desember’.^__^

 

Tiap bulan Desember di Manokwari, pohon buatan ini muncul dimana – mana.  Pohon ‘Desember’ ini tidak selalu merupakan representasi tanaman konifer khas negara empat musim. Bentuknya pun beragam; mulai dari pohon asli yang dililiti hiasan hingga representatif pohon dari berbagai bentuk: ranting, tonggak besi hingga lilitan nelon. Semuanya didapuk sebagai pohon Natal asalkan berhiaskan gantungan warna – warni berbagai bentuk dan juga dililiti lampu natal warna – warni. Pohon ini ada yang ditemani dengan pondok hias natal, ada pula yang berdiri sendiri.

 

Di dekat tempat tinggal saya di areal Fanindi, khususnya di bagian Fanindi luar, daerah Jl. Merdeka yang dekat dengan perempatan besar Makalo, lebih tepatnya berhadapan dengan kantor PSW YPK, berdirilah satu pohon natal buatan yang menurut saya sudah bisa menjadi ikon natal di kawasan Fanindi bahkan mungkin menjadi salah satu pohon natal buatan yang memanjakan mata penduduk kota Manokwari karena berdiri megah di pinggir jalan protokol. Pohon Natal milik komunitas AVANZA (Anak Vanindi Zaja). Pohon ini didirikan di halaman rumah keluarga Matini. Iseng – iseng, dalam sebuah acara bajalan malam tanggal 30 Desember 2011, saya berkesempatan menggali cerita dengan senior anggota komunitas Avanza  (Bapak John Matini) yang kebetulan halaman rumahnya dipakai sebagai tempat berdirinya pohon natal ini.

 

KILAS SEJARAH SINGKAT


Pohon Natal Avanza  merupakan inisiatif swadaya generasi muda Avanza. Hal ini dituturkan oleh John Matini (36 tahun) pada sebuah malam penuh ledakan kembang api warna – warni di atas kepala kami. Inspirasi awalnya bermula dari keinginan untuk mempunyai perayaan natal yang juga meriah penuh dengan dekorasi natal seperti anak – anak Papua lainnya di kota Jayapura. Terbersit dari keinginan agar Manokwari juga punya ‘sesuatu’ yang bisa dikenang dari perayaan natal tiap tahun, maka John Matini dan teman – teman di komunitas anak muda Avanza pun mulai putar otak. Pikir sana – sini, pilihan pun jatuh pada pendirian pohon natal di pinggir jalan, tentu saja dengan ciri khas tertentu yang membedakan dengan pohon natal lain di kota ini. Kebetulan rumah keluarga Matini yang berarsitektur era kolonial ini memang sangat strategis sebagai lokasi display pohon karena berada di pinggir jalan protokol Manokwari, tepatnya di jalan Merdeka.

 

Sejarah toh akhirnya menorehkan satu kisah baru dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Bulan Desember 2002, pohon natal Avanza resmi berdiri untuk pertama kali dan menjadi komitmen tahunan komunitas ini untuk ‘pasang’ pohon natal setiap tahun.  Tahun ini sendiri, pohon ini selesai didirikan pada tanggal 3 Desember 2011 kemarin.  Pembuatan dan pemasangan pohon natal ini sudah pasti mempunyai rancangan. Yang patut diberi jempol adalah upaya komunitas ini untuk memberdayakan kreativitas anggota muda mereka untuk membuat semua desain awal pohon ini  termasuk sketsa. Hasilnya? Bisa ditebak! Bila di bulan Desember kemarin anda berada di Manokwari dan pernah melewati jalan Merdeka dan melihat sebuah pohon natal buatan yang lumayan besar di pinggir jalan gagah berdiri, itulah hasil karya komunitas ini.

 

 9 perayaan natal telah berlalu sejak pendirian pohon natal ini pertama kali dan komunitas Avanza sudah membuat tiga jenis desain yang berbeda. Desain pertama, pohon natal buatan yang tingginya lebih dari 10 Meter dan memakai  lilitan suwiran tali plastik Rafia Hijau sebagai representasi daun. Kemudian beberapa tahun kemudian, desain kedua dibuat dengan mengganti tali plastik rafia hijau dengan yang berwarna putih, untuk menggambarkan seakan pohon ini sedang terbungkus salju. Akhirnya, beberapa tahun terakhir ini, desain ketigalah yang dipakai hingga kini, yaitu dengan menggunakan media plastik sampul (kertas cover) berwarna hijau yang dibentuk berbentuk daun oak ukuran besar. Desain taman tiap tahun pun sering berbeda – beda. Tahun lalu bahkan taman sekitar pohon dihiasi dengan tiruan Sinterklas berukuran besar.

 

DESKRIPSI SINGKAT POHON

Pohon ini tingginya sekitar 10 meter (tidak termasuk bintang di puncak pohon). Elemen tiang utamanya (pole) terdiri atas pipa besi  setinggi 2 Meter yang disemen pada base-nya dan mempunyai sok kayu besi  berukuran 10 x 10 cm di ujungnya yang dibulatkan agar dapat dimasukan sambungan ranting dan pohon bagian atas. Kemudian dipasangkan juga pada bagian atasnya kawat beton (betonizer) berjarak ukuran 1 Cm yang diperuntukan untuk ranting – ranting pohon ini.

 

Pohon Natal Avanza tahun ini berciri khas berdaun plastik sampul hijau transparan berbentuk daun Oak. Guna menghasilkan efek pohon yang rimbun, dibutuhkan sebanyak 10 rim plastik sampul (1 rim – 500 lembar) sebagai pembentuk daun. Daun – daun dari plastik hijau ini kemudian direkatkan pada ranting bambu yang ujungnya sudah diberi kawat bandre  kecil (beton). Tentu saja jumlah ranting bambu disesuaikan dengan jumlah titik di dalam batangan pohon yang sudah tersedia. Bambu yang biasa dipakai adalah jenis bambu kuning ataupun bambu lainnya. Yang penting bambu tersebut kuat dan tidak mudah patah.

 

Pohon Natal juga tak bisa lepas dari elemen pencahayaannya, ibarat masakan tanpa garam ^_^. Pohon natal di Fanindi ini tentu saja punya koleksi lampu natal yang cukup memanjakan mata. Ada  4 jenis lampu dengan kekuatan daya yang berbeda – beda yang dipasang. Lampu natal utama tentu saja jenis lampu warna – warni berdaya 5 watt berjumlah 100 buah. Kemudian, ada lagi lampu sorot berdaya 60 watt warna – warni sebanyak 4 buah yang terletak di bagian dasar pohon (semacam taman kecil), plus 8 lampu ujung taman @5 watt. Tak lupa harus saya sebutkan adanya lampu selang kelip warna – warni.

 

KENDALA 

Pohon Natal Avanza ini tentu saja inisiatif swadaya komunitas anak muda Fanindi sekitar Jl. Merdeka. Biasanya urusan swadaya tak jauh dari urusan finansial, termasuk dalam pemasangan pohon ini. Berdirinya pohon natal yang penuh dengan lampu warna – warni dan menyala setiap malam lebih dari sebulan tak ayal menyerap biaya perawatan yang tak sedikit, belum lagi dengan biaya pembuatan serta anggaran lainnya. John Matini bertutur bahwa demi pendirian pohon natal ini, komunitas mereka harus merogoh kocek sekitar 8 Juta Rupiah tiap tahun. Tentu saja tiap tahun, ada bahan dari tahun lalu yang masih bisa dipakai, namun biasanya usai sebulan dipamerkan, ada banyak bahan yang rusak dan terpaksa harus diganti. Guna mendapatkan dana ini, anak – anak muda ini bekerja keras mencari dana. Ada beberapa cara yang ditempuh, al: mengumpulkan iuran pohon natal sejak 3 bulan sebelum natal, bekerja beberapa bulan sebelumnya di berbagai tempat dengan mengandalkan jaringan teman seperti  membersihkan halaman, menjual bazaar serta pengecatan dan kegiatan ‘cari dana’ lainnya. Walau tetap diakui bahwa biaya yang didapatkan masih jauh dari yang dibutuhkan sehingga biasanya kerelaan pribadi dari tiap individu dalam komunitas untuk menyumbang. “Ya, yang penting kami ada buat, sehingga perayaan natal lebih meriah di Manokwari lewat adanya pohon ini, ade” tutur Matini.

 

Saat saya tanya terkait hujan di bulan Desember terhadap ketahanan pohon, Matini dengan optimis mengakui bahwa selama sebulan ini hujan deras tidak menghancurkan pohon, bahkan lampu dan kabel  - kabel yang terletak di bawah pohon tidak ada masalah. “Kemarin tuh banjir sampe kabel – kabel ada yang hampir tarendam, tapi semua lampu aman.” Dalam percakapan kami itu, saya sempat terlewat menanyakan perihal matinya lampu bintang di puncak pohon, untunglah perihal ini dikemukakan oleh tamunya Matini; Pak Leo Koirewoa, “ade, kenapa ko tra tanya tentang kenapa bintang di ujung pohon de tra menyala tuh.” Matini dengan sigap menjelaskan alasan teknis terkait padamnya lampu bintang terkait kendala sambungan pasca banjir lokal di seputaran jalan Merdeka, “Bintang mati karna aliran tra konek abis banjir kemarin, ade.” Seorang teman John Matini; Pak Anton Renyaan menambahkan dengan gaya humornya, “Ade, mengerti saja, Yesus su lahir too jadi memang abis tanggal 24 langsung bintang padam.” Memang hal ini cukup bikin geleng – geleng kepala juga karena lampu bintang baru padam usai tanggal 24 Desember malam. Anyway, yang pasti secara garis besar Matini mengakui bahwa tak ada kendala yang berarti bagi pohon ini terkait hujan.

 

Pohon natal yang mempunyai lampu lebih dari 100 buah dan terletak di pinggir jalan utama ini tentu saja menimbulkan pertanyaan penting terkait keamanan properti . Lewat bincang – bincang malam itu, Matini menjelaskan bahwa selama 9 tahun pendirian pohon natal ini tidak pernah ada masalah dengan keamanan semisal pohon dirusak ataupun lampunya dicuri. Jadi dapat disimpulkan bahwa kondisinya aman. Booo sapa mo pancuri, anak kompleks jaga mati hehehe *tes toooo.

 

KNOWLEDGE SHARING

Walaupun pendirian pohon natal ini menjadi kegiatan tahunan dari komunitas anak muda Avanza dan merupakan proyek swadaya, tetapi komunitas Avanza tidak merasa bahwa pengetahuan mereka merupakan hal yang perlu disembunyikan. John Matini bercerita bahwa komunitas ini sudah diminta beberapa kali selama beberapa tahun terakhir untuk memberikan pelatihan singkat dan pendampingan pada komunitas anak muda Kristen khususnya dari pemuda GKI di beberapa gereja di Manokwari  tentang cara pembuatan pohon natal buatan e.g. di GKI Eben Haezer Fanindi, GKI Sion Sanggeng, GKI Manyosi Reremi, pemuda Fanindi Dalam. Namun, Matini melihat bahwa tak hanya diperlukan ketertarikan dan pendanaan saja, tapi yang paling penting adalah komitmen untuk tiap tahun membuat hal yang sama. Hal yang masih belum ditemukan oleh Matini dari komunitas yang sempat dilatih.

Komunitas ini juga pernah diminta oleh Bupati Kabupaten Teluk Bintuni (Drg. Alfons Manibuy) untuk membuat pohon natal sejenis di Bintuni. “Pohon natal yang kami buat di sana tuh tingginya 8 meter dan habis 15 rim plastik kaver hijau”.

 

Matini juga menambahkan bahwa komunitas ini sangat terbuka bila ada pihak yang hendak meminta diajari. Namun, mereka menginginkan komitmen yang kuat dari komunitas yang dilatih sehingga mereka berharap akan adanya kesinambungan tiap tahun. Matini juga menambahkan bahwa di waktu – waktu mendatang, ada banyak ide yang sudah digagas oleh komunitas ini terkait pohon natal al. membuat pohon natal air hingga pemanfaatan pembuatan pohon natal dari limbah sampah misalnya dari bungkus Mie instan. Tetapi, ide ini masih digodok karena membutuhkan kesiapan dana dan juga tenaga yang tidak sedikit.

 

SARAN - SARAN

Dalam bincang – bincang malam itu, saya mendapatkan banyak masukan yang berarti untuk saya tulis khususnya terkait perayaan natal. Walau saya pribadi tidak mempercayai pohon natal sebagal salah satu elemen Kekristenan saya namun saya menghargai pandangan orang Kristen lainnnya terkait pohon natal. Ada satu hal menarik yang disampaikan oleh John Matini malam itu dan kami cukup sependapat dalam hal ini: perayaan natal dan kaitannya dengan penggunaan kayu dari hutan alam serta kaitannya dengan sektor pariwisata Manokwari.

Sebagai kota Injil, Matini berpendapat bahwa perayaan natal di Manokwari dapat dijadikan sebagai sebuah momentum wisata yang menarik bila dikemas dengan baik. Selama bulan Desember di Manokwari ada banyak karnaval maupun parade di jalan serta berbagai lomba namun hingga saat ini tak ada ‘lomba pohon natal hias’. Yang ada hanyalah ‘lomba pondok hias’. Padahal, pohon natal hias dapat dibuat dari berbagai benda dan punya banyak representasi dan juga dapat dibuat yang lebih ramah lingkungan serta lebih tahan lama. Pemikiran Matini secara tak langsung menyeret kenangan saya kembali ke Canberra, Australia dan mengenang adanya pohon natal kota yang besar sekali di tengah kota dan dijadikan sebagai salah satu areal wisata khususnya tempat berfoto bagi wisatawan ^_^

 

Matini tidak menentang adanya lomba pondok hias tapi secara pribadi ia menyayangkan bahwa bahan baku utama pondok hias adalah pohon – pohon muda maupun spesimen dari hutan alam. Padahal, saat ini pemerintah sedang gencar – gencarnya mempromosikan penanaman pohon di Manokwari. Bukankah dengan adanya lomba pondok hias, secara tidak langsung akan semakin memicu banyaknya pembuatan pondok hias? Tidak jadi masalah bila bahan baku pondok adalah bahan ‘bukan-dari-hutan-alam’, tapi bila sebaliknya, sangat sayang bila ‘pabrik oksigen’ kita habis dibantai hanya untuk pembuatan pondok yang rata – rata hanya bertahan beberapa bulan, bukan? ‘Be wise’, mungkin pesan penting yang ingin disampaikan oleh Matini.

 

Sebelum menutup pembicaraan kami malam itu, Matini menyampaikan harapannya terkait pohon natal ini khususnya mimpinya agar ada lomba pohon natal hias tingkat kabupaten. “Ya sa berharap ini bisa jadi festival tahunan sekalian dengan penilaian lampu natalnya sehingga tak langsung akan memancarkan Manokwari sebagai kota Injil dan menyebarkan aroma kedamaian natal penuh sukacita bagi semua orang di Manokwari dan juga pada satu sisi bisa jadi sebuah kegiatan agar anak muda lokal bisa kas keluar dong pu kreativitas di bulan Desember.” Itu mimpi Matini dan komunitas Avanza. Yang pasti, saya salut berat dengan komitmen mereka selama 9 tahun ini. Mereka berhasil membuktikan bahwa anak muda lokal di Papua dapat juga memberdayakan diri mereka serta mengasah kreativitas dengan cara yang benar dan tak ragu untuk mencapai mimpi mereka. Patut diacungkan jempol!

 

Akhir kata, saya hanya  anak Manokwari yang ‘lahir-besar’ di areal Fanindi, dan ‘bangga sungguh mati’ berbagi 28 tahun usia saya dengan kota administratif tertua dan juga pusat penyebaran Kekristenan pertama kali di tanah Papua ini. Pohon Natal Avanza mungkin hanya satu faset kecil perayaan natal di kota saya, tapi saya rindu suatu hari nanti kala industri pariwisata tanah ini berkembang pesat, tak hanya ada lomba pohon natal hias, tetapi lomba lainnya yang menjadikan natal begitu semarak dan memancarkan sukacita hingga tak heran semangat ‘hari baik’ Natal membuat tiap orang merasakan percikan damai surga di bumi. Saya bermimpi, kelak tagline promosi wisata perayaan natal yang tertera di tiap kartu pos maupun kartu natal di tanah ini pasti berbunyi, “Manokwari: the best place for Christmas in Tanah Papua”.


Itu sa pu mimpi. Baru kam?

 

(Manokwari, 030112)



Bagikan artikel ini ke kawan pu facebook, twitter, ato yg lainnya, klik saja salah satu icon yg sesuai di bawah ini.
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
 

Komentar 

 
0 #1 Steve Zhorong HC 2012-01-17 21:43
2 jempol buat bro pu artikel dan Kota Injil.

hormat di bri
Kutipan
 

Kase Komentar

Kode keamanan
Refresh

Kode Etik | Manajemen | Hubungi Yaswarau | Panduan Web |
Copyright © 2007-2011 Yaswarau - Allpapuanlovers . All rights reserved
Port Numbay - Papua