Kamis, 23 Feb 2012
Click



Pesan terbaru: 13 jam, 55 menit yg lalu
  • anggi imbiri : ^^
  • Rudolfo : Salam Cinta Papua
  • kekenikanaka : halloooo...slamat pagi komin2 tercinta dan pencinta komin di mana saja berada. love you all..
  • Ayari : slamat bergadang sodara/sodariku tercinta....
  • novia : tetap mengucap Syukur!! ^_^
  • Rudolfo : apapun, bagaimanapun, dimanapun, kapanpun....

Register atau login dulu

Penilaian Pembaca: / 0
KurangMantap 
Evany
Protest tertulisuntuk "so yesterday" parents..
Artikel & Berita -
Jumat, 05 Nov 2010 10:15
Oleh : Tanmer

Beberapa hari lalu, sa sempat chatting dengan sa sodara laki2 yang baru pulang pendidikan dari luar Papua. Sa dan sa sodara laki2 ini paling akrab, karna ten2 punya pandangan yang hampir sama dalam nilai2 budaya ,yang mana berlawanan dengan ten2 pu keluarga. Jadi sa banyak sekali curhat ke sa pu sodara laki2 ini. Di dalam chatting tuh sa curhat tentang sa pu pandangan tentang kehdiupan di luar Papua yang sangat bertentangan dengan keluarga di rumah, Papua.  

Waktu sa chatting sa tanya sama sa sodara laki2, ”bro , knapa kita keluarga nih "so yesterday' sekali k?” . tapi sa sodara laki2 cuman balas “ sa juga tra tau sist. Sa semenjak injak tanah nih lagi, sa juga juga punya pertanyaan yang sama deng ko, dan ini bikin masalah lagi”.

Setelah chatting dengan sa bro dan tra temukan de jawaban dari sa pu bro nih, sa  kumpul sama sa teman2 yang juga dari Papua dan tonk duduk crita2 sambil minum teh panas dan makan pisang goreng. Di situ sa angkat pertanyaan yang sa kasih ke sa pu bro lagi. Topic tentang z orang tua yang terlalu "yesterday" dengan sa pu sifat yang su ikut perkembangan zaman nih.

Oks, sebelum itu, sa harus jelaskan kenapa sa bilang dorang "so yesterday" ?? karena tentu saja  z family dorang masih pegang kuat budaya dari sa pu nene dan tete pu Zaman . Contohnya, Di za pu nene dan tete pu budaya, yang mungkin peran laki2 lebih penting dari pada perempuan, dan juga larangan dalam memilih pasangan hidup seperti, tidak boleh pacaran dengan laki2 /perempuan ini, atau laki2/perempuan itu, tra boleh pigi clubbing, itu iblis pu tempat, tra boleh ini, tra boleh itu….terlalu banyak tra boleh dari pada bolehnya..

Sapa yang tra stress ale??? Ckckkckck..

Sa ingin sekali bilang sama dorang, kalo Itu  nene dan tete pu budaya,mama dan bapa kam pu budaya. Itu kam pu zaman. Sedangkan saya sekarang sudah ada hidup di tahun 2010 yang mana budaya nya sudah berubah. Mereka harus bisa lihat kalo budaya tuh sudah berubah. Perubahan ini tentu saja dalam 2 hal, berubah kea rah yang baik dan ada juga berubah ke arah yang tra baik.  contohnya berubah ke arah yang baik.  kalo di za pu tete dan nene pu zaman tonk perempuan hanya bisa sekolah sampai SMP, SMA/SMk. Di budaya sekarang perempuan juga bisa sekolah sampai s1,s2, dan s3. Barang apa jadi?? Perempuan dan laki2 punya kemampuan berpikir yang sama, jadi buat apa ada perbedaan antara laki2 dan perempuan lagi?? Kalo ke arah yang tra baik tuh yang sebaliknya, seperti, ada orang tua yang masih pegang budaya dahulu kala ato tahun 1 punya, akhirnya anak perempuan cuman bisa sekolah sampe SMP atau SMA, menikah dan kerja di dapur.atau, anak perempuan tra bisa ambil keputusan dalam suatu hal dalam keluarga ataupun dalam masyarakat, tidak bisa jadi pemimpin, harus kaka laki2 yang jadi pemimpin, tra bisa menikah duluan, harus kaka laki2 yang menikah duluan. kalo bgini sedih sekali toh,.ckckkckc…dengan ini tonk harus liat ada budaya2 tertentu yang harus kita rubah dengan budaya baru yang bisa buat tonk lebih baik dan lebih maju.

 

Untuk pasangan hidup, kalo dulu,  keluarga donk  ada istilah macam dari serui “firumi” dan mereka bisa tentukan donk pu anak pu ‘tempat kawin’ , tapi  mungkin  sekarang keluarga sudah harusx sadar,  ada anak yang tra mau di jodohkan. Jadi Keluarga donk su harus siap untuk trima laki2 dari dunia lain juga, yang mungkin donk tra kenal sama sekali. Untuk pasangan hidup tuh anak punya hak untuk pilih, dengan sapa de mau habiskan de masa hidup bersama. Tentu saja dalam hal ini keluarga juga harus tau di umur2 berapa yang mereka memang masih harus control donk pu anak2, dan pada umur2 berapa yang mereka harus bisa percaya pada donk pu anak2 remaja untuk mengambil keputusan sendiri untuk pilih donk pasangan hidup. Jadi donk tra tinggal pacaran sembunyi2 trus, karna takut kalo ketahuan pacaran langsung dapat sepak dari bapa, om, ato kaka laki2….bohh, family kam blum pernah dengar istilah, sembunyi2 tuh yang berbahaya k?? hehheheh… ;)

Untuk pergi clubbing, kalo dulu mama dan bapa pu kelas di lantai dansa. Serakang anak2 punya clubbing. club itu cuman untuk pergi goyang dan mungkin tengki minuman satu gelas saja. Juga setiap orang yang masuk ke club tuh pasti sudah tidak under age lagi, dalam arti bukan anak kecil yang pigi clubbing. Jadi, itu smua orang dewasa yang tau bedakan mana yang baik dan mana yang tra baik yang ada dalam club situ, jadi pasti donk bisa bertanggung jawab dengan donk pu diri sendiri. Kalo orang tua  bisa kasih password KEPERCAYAAN, pasti anak2 bisa jaga orang tua pu kepercayaan tuh baik2 dan tau hal2 apa saja yang boleh dan tra boleh di lakukan dalam club situ. Selanjutnya, orang tua juga tra bisa mo mengenerelisasi kalo smua yang ada dalam club tuh perempuan dan laki2 tra baik. Smua yang identik deng club tuh tra baik, setan, iblis punya.. bah??? Yang B saja nih..Club tuh cuman orang pigi have fun saja, ato cuman untuk senang2 saja, sama sperti kam orang tua ke lantai dansa. Bedanya cuman di music saja baru…arooo family kam protes sampe…hehehhe…

 

Jadi itu sudah, budaya semakin berubah, dan sebaiknya orang tua harus bisa menyesuaikan dengan anak muda pu budaya sekarang. Dan tonk anak muda juga harus bisa mengerti orang tua dan ambil budaya dari orang tua donk pu zaman,  yang menurut tonk berguna untuk tonk sendiri di tonk pu zaman nih. jangan lagi ada keluarga  yang tra mengerti,dan  cuman mau donk saja yang control semua2 sampai2 anak tra punya hak lagi, karena donk pu pemikiran tuhhhhh….. donk pu budaya lebih baik dari pada tonk pu budaya sekarang. Kalo kayak begini , tentu bisa terjadi conflict antara orang tua dan anak, seperti sa dan sa bro alami…hahhahaha……

p.s tra bisa protes ke family dorang jadi, protes lewat tulisan di sini saja..hahah…


 

 

 



Bagikan artikel ini ke kawan pu facebook, twitter, ato yg lainnya, klik saja salah satu icon yg sesuai di bawah ini.
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
 

Komentar 

 
0 #3 rudi11 2011-02-08 03:21
sis cia,.

klo menurut saya tu,org tua mmg spt itu...de rasa bertanggungjawa b dgn de pu anak,,de "terikat" dgn adat dan budaya,aturan2, dsb,dan itu wajar..
klo besok2 torang jadi ortu yg "baik" pasti spt itu juga (anak tra boleh ini,tra bole itu)itu klo torang jadi ortu yg baik,klo tdk tu torang tdk pusing dgn anak..

sis pu ortu termasuk yg baik,,,artinya masih larang ini,larang itu,msh ada perhatian(klo tdk ada phatian tu,tdk pusing sis mo jungkir balik ka,mo bikin apa ka,,epen?),..yg penting tu,sgala sesuatu hrs dibicarakan sama ortu..sekeras2nya ortu,suatu saat dorang cair juga,yg penting niatnya baik..mgkn besok2 torang dpt jodoh yg tra sesuai dgn budaya ortu,tapi sa yakin,klo torang datang baik2,bicara baik2,semua tu bisa berjalan dgn baik juga..

sa bukan clubbers tapi stdknya sdh pernah "rasa" dunia clubbing,,isiny a tu cuma miras,musik keras,dll..(sa miras lbh parah lagi-jujur saja,skrg masih-sa lagi brusaha brenti) besok2 klo sa pnya anak,sa pasti larang dia juga spt saya,krn sa sdh pernah spt itu ..

mgkn pesan saya,tetap dgr ortu,tapi tetap dgr diri sendiri juga dan sampaikan dgn cara yg paling baik buat ortu,,yg penting kepercayaan yg ortu kasi (skolah,kuliah, kerja,dll)terse lesaikan dgn baik..

budaya spt ini bukan milik papua saja,tapi suku2 di bumi ini sebagian besar bgtu..jawa,sumtra,bah kan cina,arab,dll juga bgtu..2 suku trkhir ni mlh lebih kuat lagi de pu budaya,tapi tetap saja ada yg "mendobrak" budaya dorang...menurut saya,itu tdk salah,yg salah klo "mendobrak" dgn cara2 yg salah...
Kutipan
 
 
0 #2 Sue 2010-11-23 15:35
satu hal yang orang tua pikirkan adalah masa depan anaknya terutama anak perempuan.karena dara/ perawan/perempuan itu bagaikan sayap kupu-kupu sekali disentu oleh barang lain atau oleh tangan manusia hilanglah sudah keindahannya.

Ada Banyak juga orang tua yang pandanganya udah maju kok.

kalau masalah jodoh yang dijodohkan orang tua saya pikir orang tua seharusnya merubah kebiasaan itu, karena perkawinan itukan untuk kebahagian masa depan kedua pasangannya.

Jika ada orang tua yang sudah maju pandangannya mengenai seperti yang ade Sisca bicarakan di artikel bersyukurlah karena hal itu menunjukkan semakin orang tua kita berpendidikan semakin maju pola pandangnya.

Kalau ada orang tua yang memberikan kepercayaan untuk kitong bebas ke club,dan lain-lain, jaga dan tunjukkan kepercayaan sabagi pertanggungjawa ban.

Maaf kalau dalam za mengomentari ada hal-hal yang meninggung perasaan.


Salam Cinta Papua.
Kutipan
 
 
0 #1 Rudolfo 2010-11-06 15:32
menarik membaca sist cia pu tulisan ini, sa mencoba mengerti tulisan ini, rupanya sist mengatakan so yesterday untuk bagian bagian tertentu yg kini telah bertentangan dgn paham yang kini dianut sist cia.

Mengenai jodoh sa setuju bahwa harus ada diskusi antara orang tua dan anak untuk menyatukan persepsi, namun jika tetap saja tidak terjadi kesepahaman, maka anaklah yg harus menentukan arah masa depannya.

soal clubbing sa kira sah sah saja. dan sa sependapat dgn cia. tergantung kedewasaan masing masing kitalah.

nah.. yang menarik adalah mengenai posisi anak laki laki dan perempuan dalam adat orang Papua. Kitong orang Papua ini terkenal atau dikenal karena marga/ keret/ fam. anak perempuan kalo kawin, de ikut fam suaminya. kalo anak laki laki, de akan bawa fam itu seterusnya. hal ini lah yg menyebabkan posisi anak laki laki menjadi istimewa. dan cenderung diutamakan.

Sa kira untuk hal lain bisa dibantah tapi posisi istimewa anak laki laki dalam hal penerus fam/ marga ini tra bisa dibantah.

Wanita Papua juga punya posisi istimewa, kalo mau kawin tu dia akan dihiasi dengan berbagai macam emas dan segala kekayaan orang tua dan sanak saudaranya. semua kaum kerabat mengantarnya ke rumah laki laki dengan penuh pesta pora dan kebanggan, seolah olah dong mau bilang "ini.. tong antar tong pun anak perempuan ini buat kam, de cantik.. supaya kam tau ..kitong tra kosong :).

jadi anak perempuan bukan cuma trima maskawin, tapi de diserahkan dengan segala kebesaran keluarga dan kerabatnya. ini istimewa skali menurut saya. (Kita tra perlu terjebak dalam definisi mas kawin yang sempit, berupa uang atau barang, tapi lebih pada simbol simbol).


sa kira perlahan tapi pasti semua orang tua akan menuju ke arah perubahan pola pikir dan cara pandang, memberi porsi yang sama pada anak anaknya tanpa membedakan jenis kelaminnya.

kalo kini sist cia mengalami kegelisahan dan kegundahan serta pertentangan batin ,ini hal biasa, jgn terlalu dipikirkan. tra semua nilai2 yang sist Cia pahami bisa cocok dengan tong pun lingkungan budaya, kecuali tong mau hidup selamanya di luar. sa kira sist Cia cukup bijak dan akan mampu untuk mengkolaborasik an realita budaya, kemajuan jaman dan nilai nilai yg baru dianut.

setidaknya sist Cia sangat beruntung punya orang tua yang berjuang dan merelakan anak gadisnya pergi skola tinggi sampe di negeri amber. bukankah ini sebuah anugrah ? tra gampang tu. tra terlalu so yerterday kan ? :)

well.. sebelumnya sa mohon maaf kalo ada kata2 yg menyinggung ato mungkin terkesain menggurui, tapi sa tertarik untuk berbagi pendapat dgn sist pu goresan keyboard ini.

Salam Cinta Papua
Kutipan
 

Kase Komentar

Kode keamanan
Refresh

Kode Etik | Manajemen | Hubungi Yaswarau | Panduan Web |
Copyright © 2007-2011 Yaswarau - Allpapuanlovers . All rights reserved
Port Numbay - Papua