|
Seminggu lalu, saya menulis tentang pohon dan emosi kesedihan saya yang merasa kehilangan dan memikirkan tentang pohon – pohon yang jadi korban dalam peristiwa ‘bakar dan palang 20 Desember’. Pada subuh tanggal 21 itu sebenarnya usai mengeluarkan emosi kesedihan saya yang terpendam, saya bertanya pada Tuhan tentang bagaimana Ia memandang arti pohon. Di subuh itu, dalam Saat Teduh, saya mendapat banyak hal menarik tentang pohon dan bagaimana hubungannya dengan budaya dan alam serta peran pentingnya dalam kehidupan perjalanan beberapa tokoh di Alkitab. Catatan tentang hal itu sebenarnya sudah harus saya buat tetapi karena kesibukan saya menjelang Natal maka saya baru dapatmengumpulkannya dalam catatan ini. Saya bersyukur minggu lalu diajar untuk melihat bagaimana pentingnya pohon dalam kehidupan karena Alkitab mencatat beberapa nama pohon dan peran mereka. Catatan berikut ini mungkin tidak terlalu runut dan komprehensif tapi ini adalah sebagian hal yang berhasil saya catat. Hanya sebuah catatan biasa tetapi sangat menguatkan saya bahwa saya tidak salah dalam mencintai pohon dan tidak ada salahnya bersedih semalaman untuk pohon – pohon yang ditebang itu. Anyway, ini beberapa hal yang berhasil saya dapat dari Saat Teduh saya subuh minggu lalu yang berhasil saya ambil dari coretan Saat Teduh saya:
#1. Pohon adalah sumber makanan pertama dan utama di dalam Taman terbaik di dunia: Taman Eden (Kej 2:9);
#2. Tuhan menciptakan pohon dengan fungsi – fungsi yang ajaib dan menakjubkan, al: pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Kej 2: 9, Kej 2: 16-17), pohon kehidupan (abadi?) (Kej 2:9; Kej 3: 22 – 24), serta pohon yang daun – daunnya dapat dipakai untuk menyembuhkan banyak penyakit maupun menjadi sumber makanan abadi (Yeh 47:12 -);
#3. Dalam kemarahan Tuhan dalam kisah Air Bah pun, Pohon (atau tumbuhan) tidak termasuk dalam ciptaan yang dimurkai atau disesalkan Tuhan atas terciptanya organisme ini (Kej 6: 7) tetapi bahkan menjadi sebuah indikator bahwa bumi sudah aman untuk kembali ditempati oleh manusia pasca air bah e.g. adanya daun Zaitun segar di paruh burung Merpati (Kej 8: 11);
4# Apa jadinya nasib manusia ditinjau dari kisah Alkitab kalau tak ada pohon dalam kisah bencana Air Bah. Memangnya sudah ada speedboat atau kapal selam pada masa itu? Untung ada kayu yang diambil dari pohon Gofir (Kej 6: 14);
#5. Tuhan kerap memilih hadirnya pohon sebagai sebuah simbol dari sebuah kejadian penting, al: Allah pertama kali menampakan diri pada Abraham di Kanaan dan kembali menjanjikan ‘Tanah perjanjian’ kala Abraham berhenti di sebuah pohon Tarbantin di More, dekat Sikhem (dalam terjemahan Alkitab terjemahan Good News Translation; pohon Tarbatin ini disebut sebagai salah satu pohon suci) (Kej 12: 6-7); Allah juga menampakan diri pada Abraham untuk memberikan janji tentang kelahiran anak perjanjiannya (Isak) di areal pohon Tarbantin di Mamre (Kej 18: 1);
#6. Pohon pun kerap ditanam untuk dijadikan lambang dari sebuah perjanjian, al: kala Abraham dan Abimelek mengadakan perjanjian damai antara mereka, Abraham menanam sebuah pohon Tamariska (Kej 21: 33);
#7. Tuhan memilih kayu dari pohon tertentu sebagai persembahan baginya ataupun sebagai lambang kehadirannya, al: Kayu Penaga (sejenis kayu Acacia/GNT) sebagai salah satu persembahan khusus Kemah Suci (Kel 25: 5) bahan pembuatan tabut perjanjian (Kej 25: 10) bahan meja roti sajian (Kel 25: 23); bahan papan/kerangka dalam kemah suci (Kel 26: 15, 26, 32) , bahan mezbah korban bakaran (Kel 27: 1,6), bahan mezbah pembakaran ukupan (Kel 30:1);
#8. Beberapa kejadian di dalam Alkitab khususnya di dunia Perjanjian Baru terjadi dengan melibatkan pohon, al: Ingat bagaimana si Zakeus yang berpostur pendek hendak melihat Yesus, dengan memanjat pohon Ara* (Luk 19: 4); Yesus mengutuk pohon Ara (Fig Tree) yang hanya banyak daunnya tapi tak ada buahnya (Mat 21: 18-22) ataupun menggunakannya dalam perumpaan (Luk 13: 6-9).
Anyway, tolong diperhatikan bahwa untuk pohon Ara dalam kisah Zakeus, menurut saya pribadi, saya lebih condong merujuk terjemahan pohon ini BUKAN sebagai pohon ARA seperti terjemahan LAI tetapi seperti terjemahan Good News Bible adalah pohon Sycamore (bisa diterjemahkan sebagai pohon Sikamor atau mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia ataupun nama Latinnnya). Pandangan saya sebagai seseorang yang mendalami studi terjemahan dan penerjemahan Alkitab pernah juga dipelajari dalam sebuah topik bahasan kuliah Master saya, saya lebih setuju untuk mengesampingkan terjemahan pohon ini sebagai pohon Ara yang lebih banyak merujuk pada pohon Fig yang menghasilkan buah dan lebih setuju bila melihat pohon yang dipanjat Zakeus sebagai pohon ‘Sycamore’ karena sepengetahuan saya yang pernah tinggal di negara empat musim, pohon fig itu tidak terlalu kuat dan lumayan kecil untuk menopang tubuh manusia dan sangat berbeda dengan pohon Sycamore yang lumayan besar dan kuat dan sering menjadi pohon peneduh.
#9. Yesus pernah menyuruh manusia untuk berkaca dan mengambil pelajaran dari kehidupan pohon, khususnya terkait dengan BERJAGA – JAGA (Luk 21: 29 -32);
#10. Yesus mengumpamakan dirinya sebagai ‘POHON’ dalam hal ini lebih kepada tanaman Anggur (Yoh 15: 1-17) yang walaupun bukanlah tanaman berkayu asli seperti pohon lainnya, tetapi mempunyai ciri yang sama: berdaun, berbunga dan berbuah serta menghasilkan biji. Ia juga menggarisbawahi pentingnya adanya ‘cabang yang menghasilkan BUAH’.
#11. Tuhan juga menganggap penting peran pohon karena bahkan dalam penglihatan Yohanes di kitab Wahyu (Wah 11: 4 -6), salah satu simbol dari saksi Tuhan yang diutus adalah dua buah pohon Zaitun yang berdiri di hadapan Tuhan dan mempunyai kekuatan al: mencegah adanya hujan, mengeluarkan api dari diri mereka dan juga kekuatan untuk mengubah air menjadi darah ataupun menciptakan tulah apapun dan mereka juga harus bertugas mewartakan kesaksian tentang Tuhan.
Anyway, pada bagian ini, saya melihatnya juga sebagai simbol bagi manusia yang harus menjadi seperti ‘Pohon’ Zaitun ini. Bukankah kita sebagai orang Kristen diharapkan menghasilkan buah yang ‘baik’ (buah – buah roh) dalam hidup kita? Bukankah kita diharapkan bersaksi tentang Kebaikan Tuhan dalam hidup kita? (bandingkan: Mat 28: 19-20; Maz 102: 18);
#12. Tuhan kerap memakai POHON sebagai BAHAN PERUMPAMAAN bagi manusia, misalnya untuk menggambarkan sebuah keluarga. Tentu saja ini bukan sekedar merujuk pada pohon keluarga ya hehehe. Tapi pada metafora dari garis keturunan Daud yang juga merujuk pada Yesus pada akhirnya yang diumpakan sebagai ‘pohon’ (Yes 11: 1). Dapat pula menggambarkan penghukuman Tuhan pada manusia khususnya Israel ataupun bangsa lain sebagai POHON yang ditebang ataupun dihancurkan, lihat saja ia mengumpakan Israel sebagai pohon yang dipanen (Yes 17: 6; Yer 8: 13, 11: 16), ataupun bangsa Etiopia sebagai pokok anggur (Yes 18: 5), ataupun pada bangsa – bangsa lain (Yes 24: 13; 27: 10-11). Bahkan dapat pula dipakai untuk menggambarkan manusia sendiri yang panjang umurnya (Yes 65: 21-22)
#13. Pada akhirnya, di dalam Alkitab, pohon tetaplah menjadi salah satu ELEMEN SURGA YANG PENTING (Yerusalem baru) karena tampaknya Tuhan memang pecinta pohon, coba lihat adanya pohon – pohon kehidupan di tiap sisi sungai air hidup yang mengalir di tengah jalan kota baru (Yerusalem Baru) itu (Wah 22: 2). Pohon ini daunnya dipakai sebagai penyembuh. Selain itu, perlu dicatat bahwa pohon kehidupan adalah salah satu dari UPAH atau hak untuk orang Kristen yang ‘baik’ (Wah 22: 14).
Saya bahkan mendapatkan sebuah peringatan keras dari Yohanes dalam bagian terakhir kitab Wahyu terkait peran pohon bahwa bila ada yang menyimpangkan perkataannya maka tak akan mendapat bagian dari POHON kehidupan (ada dua bagian hadiah yang diperoleh yaitu pohon kehidupan dan kota kudus) (Wah 22: 18-19);
#14. Meskipun POHON sangat penting dan banyak dicatat dalam Alkitab, TUHAN dengan jelas MELARANG manusia MENYEMBAH POHON baik dalam bentuk pohon (Yer 3: 9) maupun produk turunannya e.g. patung ukiran dari pohon (Yes 44: 13 – 20; Yer 10: 3 - 5). Ya, for me it makes sense ya HEHEHE.
Jadi, bacaan ini membuat saya teringat pada beberapa kepercayaan lokal yang pernah saya temukan terkait produk turunan pohon termasuk kertas (iya, kertas kan terbuat dari bubur kayu), misalnya yang mengatakan bahwa ‘berdosa’ menjatuhkan Alkitab ataupun juga Alkitan sebagai ‘senjata’ yang ditaruh di dekat kepala misalnya bayi atau anak kecil untuk melindungi mereka (Allow, saya tidak percaya hal ini karena bagi saya Alkitab dalam bentuk buku hanyalah sebagai media saja tetap Firman di dalamnya yang dibaca dan ‘dihidupkan’ lewat perbuatan itulah yang penting; esensinya yang penting. Alkitab saya malah seperti buku harian saya yang penuh coretan sana – sini, kertas post-it dimana – mana dan goresan stabillo).
Saya juga paling tidak suka nonton film Vampir yang menjadikan SALIB sebagai senjata atau kadang juga pendapat ini secara tersirat diyakini oleh beberapa orang Kristen yang saya kenal padahal untuk ngusir setan cuma 3 hal (Kuasa Nama dan darah Yesus serta kesaksian kita tentang hal itu).
Anyway, saya juga salah seorang yang menentang penggunaan pohon Natal sebagai salah satu elemen penting perayaan Natal yang notabene milik Kristus, yang mana selalu saja pesta natal tak bisa berlangsung tanpa adanya pohon ini. Please deh, bisa tuh pohon ini jadi simbol ulang tahun Yesus? Penggunaan pohon ini kan tak lain taktik awal perayaan natal di Eropa (kalo tak salah di Jerman) dimana penyembah agama non-Kristen di sana menyembah pohon. Aduh sebagai orang Kristen, saya tak mau kelak suatu hari nanti Tuhan bertanya seperti yang saya baca di dalam Yeremia 3: 13. Ogah lah!
HAL LEPAS LAINNYA:
Saya juga masih punya beberapa pertanyaan terkait pohon dalam Alkitab, antara lain:
#1. Apakah Yudas mati menggantung diri (bunuh diri) itu di dahan pohon atau tidak? Atau di kontruksi rumah? (Mat 27: 5). Sedikit penasaran dengan konstruksi rumah orang Yahudi di masa Yesus saat itu. I will search about it ^_^
#2. Tampaknya kehidupan Yesus sebagai manusia, sangat erat kaitannya dengan pohon (dalam hal ini merujuk pada produknya; kayu) karena sejak lahirpun ia ditempatkan pada sebuah PALUNGAN (baca: tempat makan hewan) (Luk 2: 12, 16) maupun berakhir di sebuah SALIB (Luk 23: 26-32). Pertanyaannya, Apakah palungan maupun Salib; yang dipakai untuk menyalibkan Yesus dan pada akhirnya dipakai sebagai lambang penderitaan Yesus dan Kekristenan, terbuat dari Kayu yang notabene adalah produk pohon? Indikasi pada masa itu apabila salib terbuat dari kayu maka Pasak bisa dipancangkan melewati tangan Yesus ke dalam materi salib itu sendiri (BELUM KETEMU AYATNYA, JADI INI ASUMSI);
Pada bagian ini, saya pun teringat pada hidup manusia itu sendiri, khususnya bagi orang Kristen di Papua. Saat lahir, umumnya kita dilahirkan dalam sebuah ruangan yang berunsur kayu, entah dindin ataupun tempat tidur yang dipakai, dan toh pada saat matinya kita pun, dikuburkan dalam sebuah peti dari kayu. Betapa dekatnya kita dengan pohon ^_^
Jadi, sebagai orang Kristen yang baik, bukankah tak salah bila kita mencintai pohon dan menghargainya sebagai sesama ciptaan Tuhan, bukan?
Betapa dekatnya kita dengan pohon!
(Manokwari, 281211)
|
Komentar
"pohon tra pernah hidup untuk dirinya sendiri... de hidup - bahkan sampai mati pun untuk makhluk hidup lain...
de pu akar kumpul air tanah untuk hewan dan manusia, de pu ampas jatuh jadi kompos kasih subur tanah, de tadah panas baru makhluk hidup lain kena sombar di bawah de pu shade, de pu daun hasilkan oksigen dan jadi obat2an serta sayuran, ketika ditebang matipun de jadi kayu bakar atau furniture di rumah2..."